Sahabat taman kota

Belum juga reda tangis kesakithatian yang ditorehkan oleh seorang sahabat dalam setiap langkah kakinya. Kata-kata yang telah terucapkan oleh seorang sahabat, membuat Astadewi tak bisa berfikir jernih.

Dia segera berlari ke sebuah taman kota yang letaknya tak jauh dari tempat menginap sahabatnya. Kemudian dia duduk di sebuah bangku, tepat dibawah pohon rindang. Astadewi tak bisa menahan tangis. Dia mengingat semua kejadian itu dengan tidak percaya. Tanpa menghiraukan sekelilingnya, Astadewi terus saja menangis tak bisa berhenti. Tidak jauh dari tempat Astadewi duduk, seorang pria sedang berlari mengitari jalan setapak. Dia menoleh dan memperhatikan Astadewi. Kemudian dia berjalan mendekat dan duduk di samping Astadewi.  Dengan rasa ingin tahu, pria dengan tubuh atletis itu memperhatikan Astadewi dan mencoba bertanya.

Astadewi tak menyadari bahwa dirinya telah ada yang memperhatikan. Dengan segera, Astadewi membuka tas dan mengambil tisu untuk menyeka airmatanya yang tak terbendung. Dia mulai menyadari, seorang pria berpakaian olahraga, yang sejak tadi berlari mengitari taman telah ada di sampingnya dan tersenyum.

“Adakah yang bisa saya bantu, nona? Mungkin kamu bisa ceritakan masalahmu kepadaku jika kamu mau?” Tanya pria itu memperhatikan wajah kusut Astadewi.

Astadewi yang sejak tadi tak bisa menahan tangis, tak kuasa untuk bercerita tentang apa yang terjadi. Sebuah peristiwa yang menyakitkan dan begitu tiba-tiba. Sebuah peristiwa yang membuatnya  seolah-olah telah jatuh seketika ke dalam jurang yang paling dalam.

Kuceritakan semua kejadian itu hingga usai. Aku tak bisa lagi memandang dia orang lain atau bukan. Karena aku membutuhkan dia juga untuk aku bisa bercerita dan mengeluarkan semua emosiku yang tak terkendali. Setelah bercerita, kulihat dia menghela nafas.

“Kamu tahu, aku kira kamu telah diputuskan oleh pacarmu. Ternyata hanya seorang sahabat, hingga kamu seperti ini. Tidak seharusnya airmatamu itu kauhabiskan untuk seorang sahabat seperti dia,” kata pria itu enteng.

“Aku bisa katakan, hatimu sungguh mulia. Namun, kamu harus tahu juga jika rasa bersalahmu dan sakit hatinya kamu hingga kamu menangis seperti ini hanya layak untuk pacarmu yang telah meninggalkanmu,” lanjutnya menjelaskan panjang lebar.

“Tetapi, dia seorang sahabat yang aku yang kupercaya selama ini. Oh…, Tuhan. Aku tidak akan mempunyai sahabat lagi sekarang. Aku tidak bisa hidup tanpa dia,” selaku. Tanpa kusadari, airmataku kembali mengalir tak tertahankan.

“Kamu seharusnya ingat tiga hal yang utama untuk sesuatu yang seharusnya kautangisi. Pertama adalah keluargamu, kedua pacarmu dan baru ketiga temanmu atau sahabat. Jadi seharusnya, yang harus kautangisi yang paling utama adalah keluargamu jika mereka terkena musibah. Karena keluarga tidak akan ada yang tergantikan, sedangkan sahabat atau temanmu, masih banyak yang bisa lebih baik dari dia. Dan dia hanya orang lain. Jadi, mengapa kepergian temanmu kautangisi hingga tampak seperti kepada seorang pacar atau keluargamu?”

Astadewi terdiam mendengar penjelasan pria itu. dia mulai berfikir dan menyadari apa yang dikatakannya. Tangisnya mereda berubah menjadi sebuah senyuman.

Aku tersenyum dan mengiyakan pendapatnya. Tak diduga, perkataan dia bisa membuatku berhenti menangis. Dia mampu membuatku berubah seketika. Sulit kupercaya. Aku seperti mendapatkan secercah cahaya yang mengaliri darahku hingga aku bisa bangkit lagi dari keterpurukkan.

Dia tersenyum melihatku tidak menangis lagi. Kemudian dia bercerita sedikit tentang dia dan keluarganya. Tidak terasa, waktu berputar begitu cepat sehingga dia harus segera pergi meninggalkan aku di taman itu. aku tidak melepas pandanganku dari dia hingga dia menghilang di persimpangan jalan untuk pulang.

Astadewi seperti menemukan kembali hidupnya setelah bertemu dengan pria itu. dia mulai menemukan dirinya kembali yang telah hilang beberapa saat setelah bertengkar dengan sahabatnya. Dia bangkit, dan tersenyum. Entah apa yang ada di benaknya. Suatu keoptimisan terpancar dari wajahnya. Tidak tampak lagi wajah kesedihan yang terpuruk redam. Pria itu mampu membangkitkan hidupnya lagi dalam sekejap.

*

Di taman itu, pertama kali Astadewi bertemu dengan Matar, sahabatnya.  Seringkali  Astadewi datang ke tempat itu untuk sekedar melepas penat dan melakukan kegemarannya membaca. Tempatnya yang nyaman membuat banyak dikunjungi oleh sebagian orang termasuk Astadewi.  Selain banyak pepohonan rindang  yang sudah berumur ratusan tahun, juga dilengkapi bangku-bangku, tanah lapang  dan jalan setapak.  Padahal taman itu dikelilingi oleh  jalan raya kota, yang setiap harinya hilir mudik kendaraan.  Namun, tetap saja taman itu menarik dan sejuk.

Saat itu, Astadewi duduk di bangku taman membaca buku. Tidak hanya Astadewi, tampak beberapa orang melakukan hal yang sama. Selain itu ada juga di seberang tempat Astadewi duduk, ada dua pasangan yang sedang asyik mengobrol. Tidak lama kemudian tampak dari arah pintu gerbang taman sebelah kiri, seorang perempuan masuk hampir berlari. Pandangannya mencari seseorang ke segala arah.  Namun, sepertinya dia tidak menemukan orang itu.

Konsentrasiku terpecah. Bukan karena jalan cerita buku yang sedang kubaca ini tidak menarik, tetapi aku sedikit terganggu dengan tingkah wanita yang baru saja duduk disebelah aku. Kakinya tidak bisa diam!  Andai saja dia temanku, sudah kutegur dia agar berhenti  menggerakkan kakinya. Sangat mengganggu…

“Uuuh.”

Astadewi terus mengguman dalam hati melihat tingkah dia. Sementara wanita itu menggerakkan kakinya tanpa henti, dan pandangannya menyebar ke seluruh penjuru taman.  Hingga akhirnya, pandangannya terhenti pada Astadewi.

“Hai…,” sapanya.

Membuyarkan konsentrasi Astadewi.

“Hai,” jawabku singkat.

“Perkenalkan…., namaku Matartyas,  namamu siapa? ” sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.

“aku Astadewi, senang berkenalan denganmu,” kataku membalas jabatan tangannya dan membalas senyumannya. Dia tiba-tiba memperkenalkan dirinya kepadaku tanpa malu-malu. Dia seorang wanita yang percaya diri tinggi kupikir. Kulihat, kembali dia menebar pandangannya ke segala arah taman. Aku tersenyum, dan kembali meneruskan bacaanku ini.

“Asta..” tiba-tiba menepuk punggungku dan berdiri.

Sontak aku terkejut, menatapnya sambil tersenyum.

“Aku pergi! Sampai ketemu lagi yaa…! Sambil berlalu melambaikan tangannya. Tampak di kejauhan seorang pria menunggunya di gerbang taman.

Mungkin, itu kekasihnya. Dia janji bertemu disini rupanya. Sungguh, aku senang melihat tingkah Matartyas tadi meskipun awalnya sangat menggangu. Andaikan aku bisa dekat dengannya. Tapi…, entahlah. Aku kembali membaca.

Seorang Astadewi menikmati saat-saat seperti itu. Menyelesaikan bacaannya hingga sore menjelang di taman kota. Tanpa ada yang mengganggu. Kemudian dia mengeluarkan sebuah buku agenda dan segera menulis. Selain membaca buku, dia gemar menulis puisi. Taman kota, telah menjadi bagian hidupnya sejak kuliah awal semester. Taman itu selalu memberinya banyak inspirasi baru untuk menuangkan kata-kata indah. Pikirannya menerawang dan tangannya menggoreskan kata-kata yang mengalir dan tumbuh dari dalam jiwa dan pikirannya.

Aku seperti mendengar suara seorang wanita yang baru saja kukenal. Matartyas! Aku segera menoleh dan mencarinya. Kulihat dia berlari ke arahku.

“Asta…, masih disini? Ngapain?”  tanyanya heran.

“Iya nih, baru aku selesai. Sebentar lagi juga pulang,” kataku sibuk membereskan buku.

“Kamu juga, kenapa kesini lagi? Bukankah tadi pergi bersama teman lelakimu? Dia pacarmu?” tanyaku menyelidik.

“Hmm…, gak balik lagi. Ketika mau pulang, kebetulan lewat taman ini. Eeh… kamu masih ada.” Dia tersenyum hingga baris giginya terlihat.

“Iya, dia pacarku. Dia akan pulang ke Jakarta tadi,” menjelaskan.

“Apa ini?’’  tiba-tiba Matartyas mengambil buku agenda Astadewi yang ada di hadapannya.

“Itu, buku agenda aku! Sini!”, kataku meminta.

Matartyas berdiri sambil membuka buku yang diraihnya. Dan mulai membaca puisi yang baru saja selesai ditulis tadi. Astadewi terkejut. Berani sekali Matartyas yang belum dikenalnya jauh, membuka-buka bukunya.

“Itu buku puisi aku! Kembalikan…!”, aku sedikit berteriak.

Astadewi mencoba meraih bukunya. Namun, matartyas berhasil menghindar dan terus membacanya sambil tersenyum.

“Aku pinjam dulu, nanti aku kembalikan. Aku juga suka baca puisi Asta” sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.

“Apa? Kamu ini ya.., bisa-bisanya memaksa aku!” tak percaya.

Astadewi terdiam. Dia kaget, apa yang dilakukan Matartyas begitu tiba-tiba. Apalagi buku itu banyak sekali rahasia yang tersimpan.

Bagaimana jika dia membaca semua isi buku itu.

“Aduuh… mati aku.” Malu sekali.

Matartyas hanya tertawa melihat wajah Astadewi yang memerah. Dia tidak menyadari, Jika apa yang dilakukannya telah membuat marah Astadewi. Hanya saja seorang Astadewi bisa menyembunyikan emosinya. Matartyas tidak peduli. Bahkan, dia tampak senang dan bahagia sekali bisa berkenalan dengan seorang yang hobi puisi sama seperti dirinya.

“Ayo, kita pulang! Udah sore Asta…”, kata Matar sambil menarik tanganku.

Aku menurut. Memang aku berencana untuk pulang dari tadi.

Mereka berdua berjalan keluar gerbang taman kota sambil bercanda. Dipersimpangan trotoar, mereka berpisah. Astadewi langsung menaiki angkot yang berhenti, sedangkan Matartyas terus berjalan berbelok ke kiri trotoar.

**

Sejak berkenalan dengan Matartyas, ada yang berubah kujalani  hari-hari.  Biasanya setiap hari setelah selesai kuliah, aku selalu pergi ke taman kota. Kini tidak lagi. Hanya sesekali aku pergi kesana. kehadiran Matartyas memberikan pengaruh yang besar dalam hidupku.  Semangatku terus tumbuh  bersamanya. Hari-hariku semakin berwarna. Aku senang, akhirnya bisa dekat dengan dia.

Persahabatan mereka, tidak bisa dipisahkan. Padahal, keduanya mempunyai karakter yang berbeda. Seperti air dan api. Astadewi yang cenderung anggun tidak banyak berbicara jauh berbeda dengan Matartyas yang spontan dan selalu berbicara apa adanya. Bahkan, terkadang tindakan Matartyas terlalu berlebihan. Dia bisa tidak mempedulikan kata-katanya hingga menyinggung orang lain.  Sikap-sikap yang ditunjukkan Matartyas tidak dihiraukan oleh Astadewi. Karena sikap seperti itu yang membuat Astadewi bisa bangkit dan selalu bersemangat dalam hidupnya.

Lain halnya dengan teman-teman Astadewi. Mereka melihat perubahan yang ada pada diri temannya membuat heran. Tidak dimengerti, mengapa Astadewi yang seorang pendiam, mau berteman dengan seseorang yang mempunyai pemikiran idealis, hidup bebas dan keras kepala seperti Matartyas.

Rimsa, teman dekat Astadewi di kampus, telah lama memperhatikan hal ini. Semenjak Astadewi bersahabat dengan Matartyas, dia semakin jauh dengannya.

“Asta, mengapa kamu bisa bersahabat dengan temanmu itu sih? Siapa namanya?” tanya Rimsa suatu hari.

“Dia Matartyas, maksudmu? Memangnya kenapa jika aku bersahabat dengannya?” tanyaku heran.

“Dia seorang wanita yang egois dan tidak tahu sopan santun Asta. Dia hanya memanfaatkan kebaikanmu saja. Suatu hari nanti, dia pasti meninggalkanmu setelah mendapatkan apa yang dia mau. Percaya deh!” rimsa memberi peringatan.

“Yang benar saja, dia tidak mungkin melakukan itu terhadapku Rimsa. Aku tahu dia. Kamu hanya tidak mengerti dia sesungguhnya”, kataku menjelaskan.

Kesal juga mendengar Rimsa mengatakan hal itu. Mana mungkin, sahabatku tega melakukan itu. meskipun dia seperti yang dikatakan Rimsa, tetapi aku tahu. Sesungguhya dia baik dan dan selalu peduli terhadapku.

Matartyas telah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan Astadewi. Astadewi sudah menjadi tergantung terhadap sahabatnya yang keras kepala itu. Lambat laun perilakunya berubah. Dia selalu mengikuti Matartyas kemanapun dia pergi. Ajakan teman-teman kampusnya, tak dihiraukan.

Hari-hariku semakin berwarna. Perlahan namun pasti, aku mulai menemukan hidup dan sikapku yang aku cari. Kehadiran seorang sahabat, membuat hidupku berubah lebih cepat. Aku tahu, dia benar-benar berbeda denganku. Kusadari itu sejak aku kenal dia. Aku membutuhkan dia, untuk membuat hidupku selalu bersemangat dan lebih berarti. Selama ini, aku seperti enggan hidup dan tidak mempunyai mimpi. Jalani saja hidup ini, dan tidak tahu kedepannya.

Aku suka prinsip hidupnya. Dia selalu bersemangat menghadapi hidup. Meskipun, banyak sekali perjalanan hidupnya yang sukar di tempuh. Namun, dia selalu bisa hadapi itu. kepercayaaan diri yang melekat pada karakternya, membuat aku bisa banyak belajar darinya.

Aku membutuhkan orang seperti dia. Karakter yang kuat, dan percaya diri. Sehingga aku bisa terbawa menjadi manusia yang kuat pula sehingga semangat hidupku ada lagi. Dia seperti nyala api yang terus membakar jiwaku untuk terus hidup dan melihat mimpi-mimpi yang ingin kuwujudkan. Aku menjadi begitu tergantung terhadap sahabatku.

Ikatan persahabatan yang dirasakan Astadewi terhadap Matartyas semakin hari semakin erat. Namun, tidak demikian dengan Matartyas. Dia merasa terbebani dengan kehadiran Astadewi. Dirasakannya, dia menjadi tidak bisa bergerak bebas. Kemanapun melangkah selalu diikuti oleh sahabatnya. Meskipun kadang masih membutuhkan bantuan Astadewi, tentu saja yang menguntungkannya. Namun, menjadi tak bisa bergerak bebas.

“Asta, apa sih yang kaucari dalam hidup ini? Kamu selalu berbuat baik terhadapku. Tetapi, aku belum pernah melihatmu membuat keputusan untuk hidupmu sendiri?!” tiba-tiba Matartyas bertanya.

“Apa maksudmu bertanya seperti itu?” kataku heran.

“Aku tidak mengerti dirimu Asta…?” Matartyas menggelengkan kepala.

Dia kemudian beranjak pergi.

“Matar…! Apa maksudmu?” aku tambah tidak mengerti dengan kepergiannya.

Dia tiba-tiba bertanya seperti itu dan meninggalkan aku sebelum mendengarkan alasan-alasanku. Apa yang terjadi dengannya? Aku tidak habis pikir, mengapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu.

Astadewi tidak menyadari, jika selama ini dia telah menjadi beban bagi Matartyas. Kebaikan Astadewi yang diberikan dengan tulus, telah disalahartikan oleh sebagian teman-temannya. Hingga pada suatu hari, sangkaan itu sampai juga ke telinga Matartyas.

Sebuah sangkaan yang benar-benar membuat panas telinga seorang Matartyas. Dia tahu, hal itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi. Dia masih bisa mengatasi, jika kedekatannya dengan Astadewi membuat dia kurang bebas dan merasa terikat. Namun, sangkaan teman-temannya membuat dia harus segera melakukan sesuatu. Jika tidak, keadaan akan semakin sulit diatasi.

Heran, aku sulit sekali menemukan Matartyas sejak tadi pagi. Biasanya dia nongkrong di depan kampus, begitu aku tiba di kampus. Hingga sore ini, aku sulit menemukannya. Mungkin dia ada di kost nya. Kuputuskan untuk menemuinya nanti malam. Aku ingin pergi ke taman kota dahulu untuk menuntaskan baca buku ini. Lagipula, aku merindukan suasana taman itu. Sejak ada Matartyas, aku jarang ke tempat itu lagi.

Kulangkahkan kakiku ke taman kota sambil menikmati udara sejuk. Kucari bangku kosong, dan kutemukan tepat diujung sebelah kanan air mancur. Disana tampak jalan setapak mengelilingi air mancur. Biasanya, jalan itu digunakan untuk olahraga ringan yang sering dilakukan oleh orangtua atau anak-anak. ketika buku yang hendak kubaca, dibuka, terselip sebuah kertas. Sejak kapan kertas ini berada dalam buku. Aku tidak tahu pasti.

Raut wajah Astadewi berubah seketika ketika membaca surat yang sengaja diselipkan dari sahabatnya. Tidak terpikirkan oleh Astadewi, jika sahabatnya telah menulis surat itu. dia tiba-tiba berdiri dan bergegas pergi.

Hatiku tidak karuan membaca surat itu. aku ingin segera berlari menemui Matartyas dan menayakan alasannya. Kata-kata dia begitu menyakitkan hatiku. Aku benar-benar tidak percaya.

Didepan kamar kost tempat sahabatnya tinggal, tampak Astadewi berdiri. Dia segera mengetuk pintu dan memangil-manggil nama sahabatnya. Namun, tidak ada jawaban.  Astadewi tahu, sahabatnya ada di dalam kamar namun dia tidak juga mau membukakan pintu. Astadewi tidak menyerah, dia tetap saja menunggu di depan kamar kostnya. Tetap saja, sahabatnya yang keras kepala itu tidak mau menemuinya.

Tidak patah semangat, keesokan harinya Astadewi datang lagi dan menunggu di depan kamar kost sahabatnya. Hingga menjelang siang, Matartyas keluar kamarnya.

“Matar, apa kabarmu? Aku ingin kita bicara. Mengapa tiba-tiba kau memutuskan ini?” tanyaku sambil berdiri.

“Pergi dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi.”

Matartyas mengusir Astadewi yang sejak tadi menunggunya keluar. Dia segera pergi ke kamar mandi yang letaknya tepat berada di ujung berbatasan dengan dua kamar kost lainnya. Astadewi mengambil kesempatan itu. Dia masuk ke kamar Matartyas. Dan menunggunya di dalam.

“Apa yang kau lakukan disini?! Pergi kataku!!” kata Matartyas tiba-tiba.

Wajahnya berubah bengis.  Emosinya mendidih begitu melihat sahabatnya ada di dalam kamar.

“tidak akan pernah, sebelum kutahu alasannya kamu mengusir aku seperti ini!” kataku memohon.

“Kamu belum mengerti juga?! Kamu itu selalu mengikuti aku, kamu selalu ada begitu aku tidak menginginkanmu ada. Kamu seperti parasit yang menempel di tubuhku Asta! Kamu selalu mengikuti aku. Dan kamu penghalangku untuk aku terus berjalan!!” teriak Matartyas, tangannya  menunjuk-nunjuk wajah Astadewi.

“Tetapi, kamu bisa bilang. Tidak harus mengusir aku dan memutuskan persahabatan kita Matar…. Jika aku bersalah, aku minta maaf”, kataku membela diri dan mencoba menenangkannya.

“Apa yang aku dapatkan darimu, bodoh! Seharusnya aku tidak mempunyai sahabat sepertimu! Kamu tahu, temanmu curiga kamu dekat denganku karena kamu seorang lesbian. Aku malu Asta. Pergi!!” katanya berteriak.

Dia mengusirku dan mengatakan semuanya sambil berteriak. Aku terkejut dia mengatakan itu. Dia lebih mempercayai temanku daripada sahabatnya sendiri. Aku tidak seperti itu. Penjelasanku tidak didengarnya.

“Aku tak ingin pergi darimu karena kamu sahabat terbaikku, Matar…”

“Keluar dari kamarku Asta! Keluar kataku! Aku tidak mau melihatmu lagi, pergii!!” suaranya semakin memekak. Kata-kata itu seperti berbisa, diucapkannya berulang-ulang. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Wajahnya galak. Tampak raut kebencian di matanya.

Tangannya meraih tanganku, dan dia menarikku kemudian mendorong tubuhku keluar.  Aku sekuat tenaga menahannya. Dia menyeretku dengan paksa hingga aku berdiri, kemudian mendorongku keluar dari kamarnya sekuat tenaga.

Aku sakit hati,… menangis di depan pintu. Matar telah mengusir aku, sahabatnya sendiri. Dia tidak mau mendengar penjelasanku sama sekali. Sungguh…, Matar. Aku tidak akan pernah bisa melupakan peristiwa ini.

Aku berdiri dan berlalu dari tempat itu sambil menahan tangis yang tak bisa kuhentikan. Seketika itu…, jiwaku seakan luluh lantak dan hancur berkeping-keping.

Bandung, 4 April 2011

(revisi cerpen yg dibuat pada tanggal 11 Agustus 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: